“PRAAANG!!!” suara kaca pecah membelah sunyinya
malam. Disusul teriakan bersahutan. Terdengar jauh karena teredam tembok, tapi
masih cukup jelas di telinga yang masih terjaga.
“Bag!Bug!Bag!Bug!!!” hantapan entah benda apa terkena apa
menyusul kemudian. Ah! Pertengkaran lagi.
“Bi... bi... bangun dong, Bi. Bi...mereka berantem tuh, Bi...
Biii. Pisahin, Bi....,” kubangunkan suamiku saat tak kuat lagi mendengar
kekerasan yang terdengar. Suami bangun tapi kemudian dia bengong. Aku selalu
takut melihat dan mendengar orang bertengkar. Lutut rasanya tak bertulang.
Jangan dipikir itu pertengkaran kami. No no no. Suamiku tak
pernah menyentuh kulitku sedikitpun saat marah. Tak ada tonjok-tonjokan dan jambak-jambakan
saat kami bertengkar. Jangankan pukulan, saling melotot pun tidak. Saling membentak
pun tidak.
Pertengkaran paling anarkis yang pernah saya lakukan adalah
saat saya membanting pintu sekeras-kerasnya. Tapi saya pintu tertutup dengan
suara kencang, saya malah njondil sendiri. Kaget! Paling brutal saya hanya
sempat mencubitnya keras-keras saat gemeeezzzzz padanya.
Suatu malam si Abi marah padaku karena suatu hal. Sepertinya
dia agak murka. Aku pura-pura tidur. Semalaman beliau bolak balik kamar depan,
kamar saya, kamar tamu. Entah sudah jalan kaki berapa kilo selama berjam-jam
itu. Meredakan marahnya, mungkin.
Pagi pun datang, usai sholat shubuh. Beliau menegurku.
Tangannya gemetar memegang dada, mungkin menahan amarah. Suaranya juga
bergetar, pandangannya berkaca-kaca. Dinasehatilah aku dengan suara pelan namun
penuh tekanan. Aku beringsut memeluk lutut. Menangis di sana. Eng Ing Eng.
Setelah semua ganjalan dikeluarkan. Aku meminta maaf. Saling minta
maaf. Berjanji untuk tak mengulang kesalahan yang sama. Berjanji untuk membuka
lembaran baru, dan selesai berantemnya. Aku segera berkemas untuk berangkat ke
kantor pagi itu. Trus gimana? Yaa sudah gitu doang. Serius? Dua rius *kasih
lambang piss. Yaaaah ngga seru ik? Hahahaha.
Begitulah manajemen marah ala suami. Tak boleh ada anarkisme,
tak boleh ada teriakan, dan setelah saling memaafkan,tak boleh ada kesalahan
yang diungkit. Boleh dibicarakan, tapi nanti kalau sama-sama sudah tenang.
Tak boleh marahan berlarut-larut, tak boleh diem-dieman melewati
2 waktu sholat. Dan setelah sholat saya cium tangannya (berarti sudah saling
memaafkan), maka saya tak boleh lagi ngedumel tentang masalah yang terjadi.
Kadang kesel sebenarnya. Dipaksa diam saat masih ingin
ngomel. Rasanya seperti abis makan kuning telor tapi ngga boleh minum. Wkwkwkwk.Sereeeet.
Inginku bisa puas menumpahkan semua ganjalan yang ada di
dada. Tapi dia tak mengijinkan. Pokoknya diam dulu. Nanti dibicarakan lagi
kalau sudah tenang.
Yeee kalau sudah nanti mah ya lupa lagi apa yang mau
diomelin. Trus ngga seru lagi. Masak udah damai-damai trus harus marang-marah
lagi. Akhirnya masalah-masalah itu memang menguap begitu saja.
Dulu awalnya saya kesal dengan kebijakan ini. Tapi semakin
lama, semakin terasa. Banyak manfaatnya berdiam diri saat marah. Waktu akan
meredakan dan menyembuhkan kemarahan. Beliau selalu mengulang-ulang hadist ini
saat sedang marahan:
Dari Ibnu Mas’ud RA Rasulullah Saw bersabda: “Siapa
yang dikatakan paling kuat di antara kalian? Sahabat menjawab: yaitu di antara kami yang
paling kuat gulatnya. Beliau bersabda: “Bukan
begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.”
(HR. Muslim)
Dan setelah mendampinginya selama 14 tahun ini, saya menjadi saksi, bahwa beliau adalah orang yang sangat kuat. Pengendalian dirinya saat marah sungguh mengesankan. Mungkin kalau suamiku bukan doi, sudah kelar hidup guweh. Hag hag hag.
Yaa Robb... sangat berharap, 14 tahun kebersamaan ini tak
hanya kekal di dunia. Tapi sampai kelak di Jannah-Nya. Aaamiin. Abi, maapin mi,
yaaaa. Hatur nuhun atas segala kesabaran Abi selama ini. Heeee.
Ciamis, 17 Januari 2017
Desi Sulistiyawati Daliman
satu minggu menjelang aniv ke-14 kita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar