Kamis, 06 Oktober 2016

HIJRAH



Mekah membara...
Terik  membakar ubun-ubun. Asma’ binti Abu Bakar yang kala itu sedang mengandung, dipilih Rosulullah untuk menjalankan misi besar dalam proses hijrahnya.

Asma’ mendapat tugas untuk mengantarkan perbekalan ke Gua Tsur, tempat dimana Abu Bakar dan Rosulullah bersembunyi dalam perjalanannya menuju Madinah. Sebuah kota yang dipilihkan Allah untuk berhijrah, demi menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan kafir Quraisy. Kehamilan tak menghalanginya untuk menjalankan mandat itu.

Genting...
Kecemasan dan ketergesaan membuat Asma’ lupa membawa tali untuk mengikat perbekalan. Tak kurang akal, dibelahnya ikat pinggangnya menjadi dua. Satu dililitkan ke pinggang untuk melindungi kandungannya, satu lagi diikatkan di perbekalan, menjaganya agar tidak tercecer.

Asma’ melakukan tugas dengan kesungguhan. Dia mencari jalur lain menuju Gua Tsur yang berada di selatan kota Mekkah dan berjarak 7 km dari pusat kota. Tersembunyi di balik gunung berbatu, di atas ketinggian nan terjal. Dipilihnya jalur ke arah utara, kemudian menyamarkan jejak itu untuk mengecoh kaum kafir yang terus memburu Rosulullah.

Mekkah mencekam...
Para pemuka kaum kafir meradang. Operasi yang mereka lancarkan untuk menghalangi rencana Rosulullah gagal. Mereka putus asa karena tak menemukan dimana Rosulullah dan Abu Bakar bersembunyi. Mereka pun kemudian mendatangi Asma’ dan menanyakan dimana Abu Bakar berada. Dengan tenang Asma’ menjawab, “ Demi Allah aku tak tahu kemana ayahku pergi”.

Abu Jahal murka, ditamparnya pipi Asma’ hingga antingnya tercabut dari telinga. Bibir Asma’ pecah, darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Dan Asma’ tetap bungkam, tak terlintas untuk lemah dihadapan Abu Jahal. Hingga akhirnya Abu Jahal berlalu dari hadapannya.

Asma’ berhasil menjalankan misinya dengan baik, walaupun harus menghadapi kemarahan kaum kafir Quraisy. Hingga terkabar Rosulullah telah berhasil keluar dari Mekkah menuju Madinah. Asma’ kuat karena tahu apa tujuan hidupnya. Segala yang dilakukannya semata demi menolong agama Allah.

Seribu empat ratus tahun berlalu...
Asma’ binti Abu Bakar telah mengukir sejarah tentang peran perempuan dalam peristiwa hijrahnya Rosulullah. Sebutan perempuan yang memiliki dua ikat pinggang tersemat indah mengiringi kisahnya. Tegas, berani, cerdas, dan matang.

Perempuan selalu memiliki peran yang vital dalam setiap perjuangan. Kita pun semestinya bisa menciptakan sejarah hijrah kita, dengan menjadi sosok perempuan yang patut dibanggakan anak-anak kita, suami kita, orangtua kita, dan masyarakat sekitar. Menjadi pribadi yang tegas sekaligus lembut. Cerdas sekaligus kuat. Dan tetap menjaga marwah diri. Selamat berhijrah, Saudariku.

(desi.fayi)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar