Mekah membara...
Terik membakar ubun-ubun. Asma’ binti Abu Bakar
yang kala itu sedang mengandung, dipilih Rosulullah untuk menjalankan misi
besar dalam proses hijrahnya.
Asma’ mendapat
tugas untuk mengantarkan perbekalan ke Gua Tsur, tempat dimana Abu Bakar dan
Rosulullah bersembunyi dalam perjalanannya menuju Madinah. Sebuah kota yang
dipilihkan Allah untuk berhijrah, demi menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan
kafir Quraisy. Kehamilan tak menghalanginya untuk menjalankan mandat itu.
Genting...
Kecemasan dan
ketergesaan membuat Asma’ lupa membawa tali untuk mengikat perbekalan. Tak
kurang akal, dibelahnya ikat pinggangnya menjadi dua. Satu dililitkan ke
pinggang untuk melindungi kandungannya, satu lagi diikatkan di perbekalan,
menjaganya agar tidak tercecer.
Asma’ melakukan
tugas dengan kesungguhan. Dia mencari jalur lain menuju Gua Tsur yang berada di
selatan kota Mekkah dan berjarak 7 km dari pusat kota. Tersembunyi di balik
gunung berbatu, di atas ketinggian nan terjal. Dipilihnya jalur ke arah utara,
kemudian menyamarkan jejak itu untuk mengecoh kaum kafir yang terus memburu
Rosulullah.
Mekkah mencekam...
Para pemuka kaum
kafir meradang. Operasi yang mereka lancarkan untuk menghalangi rencana
Rosulullah gagal. Mereka putus asa karena tak menemukan dimana Rosulullah dan
Abu Bakar bersembunyi. Mereka pun kemudian mendatangi Asma’ dan menanyakan
dimana Abu Bakar berada. Dengan tenang Asma’ menjawab, “ Demi Allah aku tak
tahu kemana ayahku pergi”.
Abu Jahal murka,
ditamparnya pipi Asma’ hingga antingnya tercabut dari telinga. Bibir Asma’
pecah, darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Dan Asma’ tetap bungkam, tak
terlintas untuk lemah dihadapan Abu Jahal. Hingga akhirnya Abu Jahal berlalu
dari hadapannya.
Asma’ berhasil
menjalankan misinya dengan baik, walaupun harus menghadapi kemarahan kaum kafir
Quraisy. Hingga terkabar Rosulullah telah berhasil keluar dari Mekkah menuju
Madinah. Asma’ kuat karena tahu apa tujuan hidupnya. Segala yang dilakukannya semata
demi menolong agama Allah.
Seribu empat
ratus tahun berlalu...
Asma’ binti Abu
Bakar telah mengukir sejarah tentang peran perempuan dalam peristiwa hijrahnya
Rosulullah. Sebutan perempuan yang memiliki dua ikat pinggang tersemat indah
mengiringi kisahnya. Tegas, berani, cerdas, dan matang.
Perempuan selalu
memiliki peran yang vital dalam setiap perjuangan. Kita pun semestinya bisa
menciptakan sejarah hijrah kita, dengan menjadi sosok perempuan yang patut
dibanggakan anak-anak kita, suami kita, orangtua kita, dan masyarakat sekitar.
Menjadi pribadi yang tegas sekaligus lembut. Cerdas sekaligus kuat. Dan tetap
menjaga marwah diri. Selamat berhijrah, Saudariku.
(desi.fayi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar