Selasa, 17 Januari 2017

PERTENGKARAN!!!




 “PRAAANG!!!” suara kaca pecah membelah sunyinya malam. Disusul teriakan bersahutan. Terdengar jauh karena teredam tembok, tapi masih cukup jelas di telinga yang masih terjaga.
“Bag!Bug!Bag!Bug!!!” hantapan entah benda apa terkena apa menyusul kemudian. Ah! Pertengkaran lagi. 

“Bi... bi... bangun dong, Bi. Bi...mereka berantem tuh, Bi... Biii. Pisahin, Bi....,” kubangunkan suamiku saat tak kuat lagi mendengar kekerasan yang terdengar. Suami bangun tapi kemudian dia bengong. Aku selalu takut melihat dan mendengar orang bertengkar. Lutut rasanya tak bertulang. 

Jangan dipikir itu pertengkaran kami. No no no. Suamiku tak pernah menyentuh kulitku sedikitpun saat marah. Tak ada tonjok-tonjokan dan jambak-jambakan saat kami bertengkar. Jangankan pukulan, saling melotot pun tidak. Saling membentak pun tidak. 

Pertengkaran paling anarkis yang pernah saya lakukan adalah saat saya membanting pintu sekeras-kerasnya. Tapi saya pintu tertutup dengan suara kencang, saya malah njondil sendiri. Kaget! Paling brutal saya hanya sempat mencubitnya keras-keras saat gemeeezzzzz padanya. 

Suatu malam si Abi marah padaku karena suatu hal. Sepertinya dia agak murka. Aku pura-pura tidur. Semalaman beliau bolak balik kamar depan, kamar saya, kamar tamu. Entah sudah jalan kaki berapa kilo selama berjam-jam itu. Meredakan marahnya, mungkin. 

Pagi pun datang, usai sholat shubuh. Beliau menegurku. Tangannya gemetar memegang dada, mungkin menahan amarah. Suaranya juga bergetar, pandangannya berkaca-kaca. Dinasehatilah aku dengan suara pelan namun penuh tekanan. Aku beringsut memeluk lutut. Menangis di sana. Eng Ing Eng. 

Setelah semua ganjalan dikeluarkan. Aku meminta maaf. Saling minta maaf. Berjanji untuk tak mengulang kesalahan yang sama. Berjanji untuk membuka lembaran baru, dan selesai berantemnya. Aku segera berkemas untuk berangkat ke kantor pagi itu. Trus gimana? Yaa sudah gitu doang. Serius? Dua rius *kasih lambang piss. Yaaaah ngga seru ik? Hahahaha.

Begitulah manajemen marah ala suami. Tak boleh ada anarkisme, tak boleh ada teriakan, dan setelah saling memaafkan,tak boleh ada kesalahan yang diungkit. Boleh dibicarakan, tapi nanti kalau sama-sama sudah tenang. 

Tak boleh marahan berlarut-larut, tak boleh diem-dieman melewati 2 waktu sholat. Dan setelah sholat saya cium tangannya (berarti sudah saling memaafkan), maka saya tak boleh lagi ngedumel tentang masalah yang terjadi.
Kadang kesel sebenarnya. Dipaksa diam saat masih ingin ngomel. Rasanya seperti abis makan kuning telor tapi ngga boleh minum. Wkwkwkwk.Sereeeet. 

Inginku bisa puas menumpahkan semua ganjalan yang ada di dada. Tapi dia tak mengijinkan. Pokoknya diam dulu. Nanti dibicarakan lagi kalau sudah tenang.
Yeee kalau sudah nanti mah ya lupa lagi apa yang mau diomelin. Trus ngga seru lagi. Masak udah damai-damai trus harus marang-marah lagi. Akhirnya masalah-masalah itu memang menguap begitu saja. 

Dulu awalnya saya kesal dengan kebijakan ini. Tapi semakin lama, semakin terasa. Banyak manfaatnya berdiam diri saat marah. Waktu akan meredakan dan menyembuhkan kemarahan. Beliau selalu mengulang-ulang hadist ini saat sedang marahan:

Dari Ibnu Mas’ud RA Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang dikatakan paling kuat di antara kalian? Sahabat menjawab: yaitu di antara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda: “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Dan setelah mendampinginya selama 14 tahun ini, saya menjadi saksi, bahwa beliau adalah orang yang sangat kuat. Pengendalian dirinya saat marah sungguh mengesankan. Mungkin kalau suamiku bukan doi, sudah kelar hidup guweh. Hag hag hag.
  
Yaa Robb... sangat berharap, 14 tahun kebersamaan ini tak hanya kekal di dunia. Tapi sampai kelak di Jannah-Nya. Aaamiin. Abi, maapin mi, yaaaa. Hatur nuhun atas segala kesabaran Abi selama ini. Heeee.

Ciamis, 17 Januari 2017 
Desi Sulistiyawati Daliman
satu minggu menjelang aniv ke-14 kita


Kamis, 06 Oktober 2016

HIJRAH



Mekah membara...
Terik  membakar ubun-ubun. Asma’ binti Abu Bakar yang kala itu sedang mengandung, dipilih Rosulullah untuk menjalankan misi besar dalam proses hijrahnya.

Asma’ mendapat tugas untuk mengantarkan perbekalan ke Gua Tsur, tempat dimana Abu Bakar dan Rosulullah bersembunyi dalam perjalanannya menuju Madinah. Sebuah kota yang dipilihkan Allah untuk berhijrah, demi menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan kafir Quraisy. Kehamilan tak menghalanginya untuk menjalankan mandat itu.

Genting...
Kecemasan dan ketergesaan membuat Asma’ lupa membawa tali untuk mengikat perbekalan. Tak kurang akal, dibelahnya ikat pinggangnya menjadi dua. Satu dililitkan ke pinggang untuk melindungi kandungannya, satu lagi diikatkan di perbekalan, menjaganya agar tidak tercecer.

Asma’ melakukan tugas dengan kesungguhan. Dia mencari jalur lain menuju Gua Tsur yang berada di selatan kota Mekkah dan berjarak 7 km dari pusat kota. Tersembunyi di balik gunung berbatu, di atas ketinggian nan terjal. Dipilihnya jalur ke arah utara, kemudian menyamarkan jejak itu untuk mengecoh kaum kafir yang terus memburu Rosulullah.

Mekkah mencekam...
Para pemuka kaum kafir meradang. Operasi yang mereka lancarkan untuk menghalangi rencana Rosulullah gagal. Mereka putus asa karena tak menemukan dimana Rosulullah dan Abu Bakar bersembunyi. Mereka pun kemudian mendatangi Asma’ dan menanyakan dimana Abu Bakar berada. Dengan tenang Asma’ menjawab, “ Demi Allah aku tak tahu kemana ayahku pergi”.

Abu Jahal murka, ditamparnya pipi Asma’ hingga antingnya tercabut dari telinga. Bibir Asma’ pecah, darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Dan Asma’ tetap bungkam, tak terlintas untuk lemah dihadapan Abu Jahal. Hingga akhirnya Abu Jahal berlalu dari hadapannya.

Asma’ berhasil menjalankan misinya dengan baik, walaupun harus menghadapi kemarahan kaum kafir Quraisy. Hingga terkabar Rosulullah telah berhasil keluar dari Mekkah menuju Madinah. Asma’ kuat karena tahu apa tujuan hidupnya. Segala yang dilakukannya semata demi menolong agama Allah.

Seribu empat ratus tahun berlalu...
Asma’ binti Abu Bakar telah mengukir sejarah tentang peran perempuan dalam peristiwa hijrahnya Rosulullah. Sebutan perempuan yang memiliki dua ikat pinggang tersemat indah mengiringi kisahnya. Tegas, berani, cerdas, dan matang.

Perempuan selalu memiliki peran yang vital dalam setiap perjuangan. Kita pun semestinya bisa menciptakan sejarah hijrah kita, dengan menjadi sosok perempuan yang patut dibanggakan anak-anak kita, suami kita, orangtua kita, dan masyarakat sekitar. Menjadi pribadi yang tegas sekaligus lembut. Cerdas sekaligus kuat. Dan tetap menjaga marwah diri. Selamat berhijrah, Saudariku.

(desi.fayi)




STRUKTUR KEPENGURUSAN BULETIN



1. Pembina dan penasehat:
- Siti Nurrakhmah, S.Kep., Ners
- Enung Sa'adah Nurtho'ah, STP


2 . Penanggung Jawab: Hj. Indah Rozalina, AMG


3. Pimred : Aida Nursidah S.si


4. Redaktur pelaksana :
- Hj. Desi Sulistiyawati S.Sos
- Luri Handayani Taofik, SE
- Yusi Nurmayasari, S.Si


5. Lay out: Retno Pratriningrum, S.Pd


6. Promosi dan dstributor: Rosta Helawati, S.ST


7. Bendahara: Iis Fachrudin



SALAM REDAKSI




Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Ba’da tahmid dan shalawat, puji syukur kami panjatkan atas kemampuan yang Allah berikan sehingga Buletin Dakwah Salimah bisa hadir di tengah kita.

Sahabat Salimah,
Hijrah adalah momentum yang selalu didamba bagi seluruh umat Islam di dunia. Biasanya pada diri seorang muslimah, hijrah sering kali diidentikkan dengan berhijab. Berhijab berarti berjilbab, seraya menghiasi diri dari tindak tanduk yang semestinya.

Semangat berhijrah juga berarti semangat untuk perbaikan. Disebut dalam sejarah, Asma’ Binti Abu Bakr mengawali momentum hijrah dengan totalitas berjuang di jalan Allah.

Dengan semangat berhijrah, Salimah Tasikmalaya mengawali kegiatan dengan semangat membangun pribadi perempuan tangguh, taat dan berkualitas.

Dengan Buletin ini, kami berharap mampu menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi setiap Sahabat Salimah di kotaTasikmalaya.

Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Pim Red